If You Think Music Can`t Bite, You Should Hear BITE

Selagi Anda terpukau melihat gambar di samping, tolong jangan bayangkan bahwa Bite adalah band post-punk bervokalis ceweq yang berisik dan beracun seperti Y-y-yeah. Mereka adalah sebuah band indie-pop dengan lagu-lagu yg unik. Sound mereka jauh dari sound heavy dan berat. Distorsi gitar mereka masih tergolong renyah di telinga. Dan Rebecca, sang vokalis, juga tak pernah berteriak.. Dia hanya menggigit dengan kata-katanya... dengan lembut dan tak mau lepas.


Ya... Lirik Bite menggigit dan tak mau lepas. Sepertinya band ini cermat memilih tema lagu. Dari judul-judulnya saja kelihatan bahwa mereka berbakat membuat lagu yang bakal agak kontroversial untuk telinga industri musik pop Indonesia sekarang.. Mereka berbicara tentang trend, lagu cinta, pergaulan bebas dan berbagai riuh kehidupan di ibukota lainnya.

Tapi tunggu, sebaiknya saya menyimpan kata-kata untuk review mini-album yang akan dirilis akhir bulan nanti.

Buat yang terlanjur penasaran, silakan datang di event launching Bite di Bandung atau Jakarta:


Flyer Band Bite - Rilis Menulis Lagu Cinta

Menulis Lagu Cinta

Jum'at, 19 Juni 2009, 19:00 - Score (Bandung)
Jum'at, 26 Juni 2009, 19:00 Emax Cafe (Kemang Raya, Jakarta Selatan)

Opening:
Mobil Derek
San Sebastian
Superglad
Monkey To Millionaires

Tiket Masuk:
Beli 1 CD BITE (untuk 2 orang)



Sementara buat yang tidak sabar menunggu sampai tanggal 19 Juni, silakan kunjungi official myspace Bite (http://www.myspace.com/heybite).
[rar]

Band Bite - Menulis Lagu Cinta

If You Think Music Can`t Bite, You Should Hear BITE

photo and artworks from Bite's myspace and press-release.

Rockisnotdead Magnetic - Your Local Scene Needs You

Selamat terlibat dan menikmati dalam sejarah terpenting dari pergerakan youth culture kota Jogja

Rockisnotdeadmagnetic adalah sebuah event yang menyatukan komunitas musik, desain dan audio-visual di kota seni dan budaya, Jogjakarta. Event ini akan berlangsung selama tiga hari, menampilkan pertunjukan berbagai band lokal disertai pameran artwork band karya para desainer grafis lokal; pemutaran berbagai video klip band karya para video-maker lokal; dan diskusi / workshop yang diadakan oleh komunitas diskusi music online Lockstock.

Hari pertama (e-day) menampilkan band-band elektronik, hari kedua (scandal session day) menampilkan band-band cutting edge dan hari ketiga (rare and raw session) menampilkan band-band lokal yg tergolong beraliran musik eksperimental.


Tujuan dari Rockisnotdeadmagnetic adalah memperjelas titik temu antara elemen musik, video, workshop dan grafis di dunia anak muda (baca: youth culture). Event ini diadakan oleh www.rockisnotdead.net dan Deadboys Komunal sebagai media dan kolektif pelaku youth culture yang selama dua tahun ini sangat aktif melakukan publikasi dan pementasan musik di Jogjakarta. Dan Elzzine disini, sebagai sahabat, selalu mendukung event istimewa seperti ini.
Salut untuk teman-teman Jogja!



ROCKISNOTDEAD MAGNETIC
"YOUR LOCAL SCENE NEEDS YOU"

Hari/ tanggal : 19, 20, 21 Juni 2009
Tempat : Borobudur Plaza, Jl. Magelang Jogjakarta

Music artists:
LAMPUKOTA
NERVOUS
SLEEPLES ANGEL
SRIGALA MALAM
SANGKAKALA
JENNY
DOM65
CANGKANG SRIGALA
ZOO
LASTKISSTODIEOFICEROTH
ARMADA RACUN
CRANIAL INSICORED
SEEK SIX SICK
LINTANG ENRICO
UMA GUMMA
MIDIJUNKIE
HEY GOODBOY
THE STOPLITCHEN
SOAC
BAGAIKAN
CACAT NADA
GODMODE
SECONDFLOOR
DJ DASH / DJ LATEX

Video artists:
01. Eko Nugroho
02. Anjum Fauzi
03. Avenue Video
04. Akindo boyz
05. DOM 65
06. Wok the rock
07. Jenny
08. Dojihatori
09. Ican Harem

Graphic artists:
01. Gde Khrisna Widyatama
02. Wedhar Riyadi
03. Cangkang Serigala
04. Grizzly
05. Gepeng Tatto
06. Wock The Rock
07. Annasign
08. Rully Zoo
09. Ade Airport Radio
10. Yudha Mati Rasa
11. Komeng Serigala Malam
12. Heirda Vichitra
13. Monophones
14. Blangkon Sangkakala

Keluarga Sayidan, sebuah catatan perjalanan mengikuti ShaggyDog selama beberapa hari

oleh Aulia Mauludi *

Tidak banyak band yang bisa menjadi merchandise city. Sebuah proses yang lama untuk menjadi band sekelas The Beatles. Begitu mendarat di lapangan terbang Liverpool kita sudah disajikan nama John Lennon yang tertulis dengan sangat besar di luar gedung bandara. Strawberry Field menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi para peziarah kota itu. The Beatles telah berhasil mengangkat Liverpool menjadi kota yang wajib dikunjungi para pecinta musik di seluruh dunia.

Memang tidak ada nama Heru, Raymond, Richard, Yoyok, Lilik, dan Banditz di airport atau dimana pun di tempat umum. Tapi mungkin bagi para penjual lapen di daerah Sayidan mereka adalah pahlawan dari Jogjakarta. Semenjak lagu Sayidan milik Shaggydog menjadi terkenal, penjualan Lapen di Sayidan naik pesat. Demikian pula bagi masyarakat yang tinggal di daerah Sosrowijayan, Malioboro, tempat mereka selalu menghabiskan weekend, bernyanyi dari satu pub ke pub lain tanpa minta bayaran. Setiap jumat apabila tidak ada jadwal manggung, para doggies selalu menunggunya di jalan ini. Dan mereka menamakannya 'kampung internasional' . Hidup santai, nerimo, penuh canda tawa khas Jogja, sambil menikmati "minum" adalah "budaya" The Dawgz, jelas Heru-vokalis Shaggydog. Kehadiran mereka menjadi hiburan tersendiri bagi para doggies di Sosrowijayan.

Pada hari itu saya hendak meninggalkan kota Jogjakarta. Sudah dua hari saya menghabiskan berbotol-botol bir dingin sambil mengikuti Shaggydog konser di dua tempat yang berbeda. “Bro saya punya beberapa botol bir dan Red Labels. Aku ulang tahun bro..” SMS Heru masuk ke GSM saya. Tak lama SMS dari Memet manager Shaggydog dan Lilik pemain keyboardnya menyusul masuk. Saya pun kembali lagi ke pusat kota Jogja, persis di sebelah barat alun-alun. Di Doggie House, api mengepul membakar beberapa ikan laut dan kentang. Hari itu mereka “melolong” sambil bertelanjang dada. Dan saya pun berbicara banyak hal, semenjak mereka masih kuat berdiri tegak hingga terkapar lemas karena .. ah sudahlah, anda tahu sendiri :)

Hidup Shaggydog dimulai 12 tahun yang lalu ketika anak-anak Sayidan ini berniat untuk merubah sebuah judul film menjadi salah satu nama band ska papan atas Indonesia. Raymond dan Heru yang satu sekolah mengajak Richard yang merupakan kakak kelas mereka di SMA. Lilik dan Bandizt adalah original sayidan crew yang tidak sulit untuk diajak membangun sebuah Band bernama Shaggy Dog. Yoyok menjadi personel terakhir yang masuk, setelah keluar dari band death metal lawas Jogja, Brutal Corpse. Lapen dan Sayidan telah menggabungkan mimpi mereka untuk terus bermain musik. Dari music punk, kemudian ska, Heru, Richard, Lilik, Raymond, Bandizt, dan Yoyok bermetamoforsa hingga menjadi sebuah band crossover style papan atas Indonesia.

Lama-kelamaan nama Shaggydog mulai dikenal masyarakat Jogja. Mereka menamakan fans nya dengan nama Doggies. Ketika pertama kali mengeluarkan album dengan menggunakan label EMI, handphone Memet banyak menampung cacian dari para doggies. Aku sadar bahwa beberapa orang tidak rela kalo band ini ikut dinikmati banyak orang. Ekslusifitas!, ujar Heru. Tapi bagaimana pun mereka tetap saja membutuhkan dana untuk membayar tagihan telepon, cicilan motor, dll. Mereka terus menyebarkan musik mereka sambil mendapatkan doggies-doggies baru di luar kota Jogja. Cita-citanya kini ingin mendapatkan "sepundi berlian sekaligus kepuasan jiwa" dengan album baru mereka. Album baru dengan rasa komplit, seperti sepiring nasi gila bakal mereka suguhkan di tahun ini, mulai dari swing, ska, jazz, akustik, rock, pop, reggae ,dub , elektronik, termasak dengan pas di tangan-tangan yang handal. “Ibarat petani, kami harus terus mempertajam cangkul, kamu harus bertanggung jawab dan berdedikasi untuk sesuatu yang telah membesarkan kamu, work hard party hard.” tambah Heru.

Fans mereka kini berasal dari berbagai kalangan. Orang-orang jalanan, preman, anak punk, skinhead, anak reggae, dan bos-bos, lengkap sudah menjadi doggies-doggies setia. Banyak juga yang berasal dari luar Indonesia.



DOGGY HOUSE
Hari pertama saya datang ke Doggy House, Heru dan teman-temannya sedang berada di studio me-remix lagu milik Something Wrong, band hard core asal Jogja yang tidak lain adalah kru dari Shaggydog. Heru banyak menghabiskan waktu di studio. Ada beberapa proyek musik yang dikerjakannya, seperti recording dengan Dj Vanda (salah satu pioneer Dj di Jogja yang sempat menjuarai beberapa kontes di luar negeri), membuat ilustrasi musik untuk film, dan tentu saja membuat proyek Dubyouth bersama Memet manager Shaggydog.

Saya sempat terkejut melihat perubahan pada wajah Memet. Lho kenapa mukamu? “Ambyar (Bubar) hehehe…” ujar Memet. Kru yang lainnya kemudian menjelaskan sambil bercanda, “Kemarin ada tembok nyebrang secara tiba-tiba.” Minggu lalu Memet baru saja manggung bersama Dub Youth. “Karena terlalu total, akhirnya saya tertidur sambil menyetir vespa, hehehe.”
Mendadak ia mohon diri sebentar. “Anakku ngga ada yang jaga, istriku lagi ikut kursus tato,” jelas Memet. Karena merasa tidak enak, akhirnya Memet kembali lagi sambil membawa anaknya dan memamerkan kalau ia sudah menjadi ayah. Lucu melihat anaknya ingin ditato seperti ayah dan teman-temannya. Memet pun kesulitan menjelaskan proses tato kepada anaknya yang baru berusia 1,5 tahun. hehehe… Tidak lama Lilik pun ikut pulang dan membawa anaknya ke Doggy House. Yah, mereka kini bukan lagi anak SMA yang bisa mabuk kapan saja. Selalu saja ada urusan keluarga disela-sela kesibukan mereka.. that's life.

Sebelum berangkat ke pertunjukan mereka di Stadion Mandala Krida, mereka berdiskusi sambil menunggu Richard, gitaris mereka, yang tidak kunjung datang. Dalam hitungan menit keluarga Sayidan bertambah satu orang. Istri Richard, melahirkan anak perempuan. Dan show yang sempat rusuh itu dilakukan hanya dengan satu gitaris (minus Richard).

Usia 12 tahun telah merubah mereka untuk lebih berpikir dewasa. Mereka menyadari bahwa membicarakan perbedaan dapat berdampak buruk. Bandizt yang mempunyai seorang istri aktivis binatang (PETA), berkomitmen untuk hidup menjadi vegan. “Itulah kenapa saya bawa kentang dan jagung kemari,” ujar Heru yang berulang tahun. Dan gaya hidup Bandizt ini juga mempegaruhi beberapa orang di Doggy House yang hidup menjadi vegan. Bandizt pun menikmati kentang bakar diantara Heru, Memet, Lilik, Raymond, dan saya yang asik mengunyah cumi bakar. Tidak tampak wajah kebencian melihat kita memakan daging yang menjadi pantangannya. Apakah itu karena efek rasa gembira minum Smirnoff dari sebuah baskom dengan sedotan secara bersama-sama ya? hehehe...

Di rumah yang berukuran 15x20 meter itu tinggal 20 orang yang mencari makan melalui musik. Mereka bersama-sama tetap menjaga Shaggydog untuk terus bisa eksis dari satu panggung ke panggung lainnya. Mereka secara bergantian menemui tamu-tamu yang datang ke tempat itu, sambil sesekali bermain playstation atau jamming/ recording, bila tidak ada show.

Untuk membunuh kebosanan di Doggy House, sesekali Heru pergi ke pasar Klitikan, tempat orang-orang jual barang-barang bekas. Kadang hanya untuk liat-liat. “Sasaranku biasanya keyboard/instrument yang vintage.” ujarnya. Berbeda dengan Lilik yang mencari kegiatan diluar dengan mengajar keyboard bagi anak-anak kecil . Di luar itu, mereka membunuh rasa bosan dengan menonton event di Jogja. “Kita gak pernah boring di Jogja, karena selalu ada kegiatan atau event yang aneh bin ajaib.” Kebosanan bagi mereka adalah melihat band-band yang tampil di TV akhir-akhir ini. “Rambutnya sama, dandanannya sama, musiknya dan tema liriknya hampir sama semua. Di kamus bahasa Indonesia, kata selain 'selingkuh' itu banyak lho, Mas!” ujar Heru.


DOGGIES-DOGGIES LUAR
Sebagai band yang tidak memiliki penjualan album jutaan kopi, Shaggydog termasuk band yang beruntung dalam dunia musik Indonesia. Dengan harga panggung di atas harga band-band indie lainnya, Shaggydog bisa tampil 3-4 kali dalam sebulan di seluruh Indonesia. "Ya bersukurlah masih tetap bisa jalan walau lagunya sudah lama," ujar Lilik. Dan frekwensi ini terus bertahan selama bertahun-tahun. Massa Shaggydog merupakan tipe penggemar yang loyal. Dua show yang diadakan dalam perbedaan waktu sehari dan dengan jarak hanya beberapa kilometer saja, tetap dipenuhi oleh para doggies yang membawa bendera Shaggydog. Sulit untuk bertahan sekian lama dalam genre yang seperti mereka bawakan, di satu sisi,mereka beruntung karena tidak memiliki saingan di genrenya. Jaringan Shaggydog memang berasal dari teman-teman mereka sendiri. Basis massanya di Bali juga merupakan massa Superman Is Dead. Heru yang dibesarkan di Bali merupakan teman akrab Rizal Tanjung (surfer no.1 di Indonesia) dan Ari Astina (Jerinx). Dan di album terbaru Superman Is Dead, Heru ikut bernyanyi karena pertemanannya dengan Jerinx. Dan anak-anak Shaggydog sangat suka menghabiskan waktu liburannya di pulau itu.

Baginya Bali dan Jogja memiliki satu kesamaan, sama-sama bisa belajar banyak dari para pendatang. Kota pariwisata memang dimanfaatkan Heru untuk mengenal budaya alternatif dari tempat lain.. Heru banyak berkenalan dengan para turis (beberapa wanita, ehm..;) dan meminta referensi budaya dan musik dari negara lain. Karena cara ini pula, beberapa kali Shaggydog sempat ditawari manggung di luar negeri. Tahun 2004 dan 2006 mereka diundang dua kali untuk konser di Belanda. Dan ini menjadi pengalaman tersendiri bagi Heru dan Band nya. Pengalaman yang membuatnya tersadar bahwa Shaggydog ini belum ada apa-apanya dibanding band-band lain dari luar negeri. "Tetapi aku bangga, karena aku dan teman-temanku berhasil memperbudak mereka di lantai dansa, hahaha! Heru bercerita, "Di Belanda, ketika detik-detik menjelang naik panggung semakin dekat, aku sempat nervous.. karena semua penonton bule, tapi lalu aku bilang ke diriku, me and my mighty band gonna blast 'em all.. akhirnya ya udah, hajar blehhh.. semua orang puas, cd habis, begitu juga dengan merchandise Shaggydog, sampai-sampai beberapa orang disana rela inden."

Kesuksesan mereka di negeri Belanda berlanjut hingga show-show mereka di kota berikutnya. Banyak hal positif yang mereka dapat di sana, apresiasi orang luar terhadap musik sangat tinggi, profesionalisme, ketertiban dalam kebebasan, dan juga cara melinting dengan large paper ;) "Di tur yang kedua, 2006, aku sudah lebih terbiasa dengan publik Belanda, dan sudah tahu jalan ke coffeeshop terdekat. Sure, I'll be back!" ujar Heru.

Walau belum mendapatkan jutaan kopi, tetapi mereka tetap bersemangat bermain musik. Dan mengajak semua orang bergembira dengan caranya sendiri. Kalau boleh saya bilang mereka adalah "merchandise city" dari Jogja. "Bila kau datang dari selatan. Langsung saja menuju Gondomanan. Belok kiri sebelum perempatan, teman-teman riang menunggu, di SAYIDAN."

* ditulis oleh Aulia Mauludi,
Seorang penulis lepas, founder of Kahloos Room Surabaya and Klampist Community

Source: Shaggydog's page on facebook.

Vans x KISS “Rock And Roll Over” Pack..

Dear pembaca Elzzine Yth...
Dengan berat hati mari kita membatalkan keinginan untuk membeli Nike Dunk Neon (seperti yang telah kita review beberapa waktu yang lalu), sebab pada waktu yang bersamaan Vans bakal merilis seri 'Rock and Roll Over' Pack. Edisi paketan ini terdiri dari sebuah sneaker sepatu slip-on, sneaker-hi, t-shirt dan jeans yg bakal dilabeli wajah para personil Kiss. Dari namanya jelas bahwa seri ini sangat pas dikoleksi penggemar Kiss.. 'Rock and Roll Over' adalah judul album Kiss tahun 1976 yang sukses mendapatkan atribut double-platinum.


Dari segi desain sepertinya nggak ada yg istimewa. Masing-masing item bakal di-matching-kan dengan busana apapun sebab warnanya dominan hitam. Nuansanya agak gelap dan klasik, yaitu rock 'n roll yang menurut kami cenderung mengarah ke punk-rock (Bukankah background hitam seperti ini adalah tipikal merchandise kaos band rock underground?). Dengan background hitam ini tentunya Vans ingin menonjolkan image personil Kiss di desainnya.



Kalau kita perhatikan, ini bukan kali pertama Vans memakai Kiss sebagai branding untuk apparel mereka. Memang, figur legenda band rock 70-an di dunia hiburan ini terbukti masih masih sangat ampuh. Topeng iblis dan image glam-rock Kiss terus bisa dijual sampai sekarang. Sudah tiga puluh tahun lebih... dan mereka masih sangat kuat.





Di bawah ini adalah video Kiss membawakan lagu 'Rock 'N Roll all Nite' di tengah tour album 'Rock N Roll Over' di Tokyo th. 1976.



(Lihat penonton di menit 1:55.. Betapa image Kiss sangat mempengaruhi fans)


Vans x Kiss "Rock 'N Roll Over" Pack's
Recommended for:
Skaters yg suka ber-'rock and roll all nite' dan 'party everyday!'
Fans Kiss, Alice Cooper dan Black Sabbath... (at least penggemar AKA, God Bless atau The S.I.G.I.T deh).


Not recommended for:
Para penikmat musik disko, hip-hop, rave party
(dan juga kalian yang masih berkeras beli Nike Dunk).

The Gossip - Heavy Cross



4 menit 17 detik penuh 'rasa sakit' yang menyenangkan mendengarkan raungan Beth soal hidup dan filosofi. Another Disco-Punk trio from Portland.. Semuanya keren, kecuali sedikit bagian kocokan gitar yang agak Interpol... sedikit mengganggu.

Coaster: NOFX is back !!

NOFX kembali lagi dengan album ke-11 mereka. 12 track lagu mereka terdengar berat dan dewasa. Fat Mike berkata bahwa album ini terinspirasi oleh hal-hal yang pertama kali menarik mereka untuk mulai nge-band.


Para veteran musik ini memang telah terbukti konsisten selama 25 tahun lebih malang melintang di scene punk, mereka pastinya sangat mengerti apa yang mereka lakukan. Coaster yang notabene adalah album ke-11 NOFX menunjukkan kematangan sebuah band dalam menggarap album yang benar-benar album. Lagu-lagu di Coaster ini bisa dibilang berkualitas bila dinilai dari segi songwriting. Lagu-lagunya kuat dalam hal repetisi, struktur dan dinamika lagu.


Saya yakin semua anak punk di luar sana akan sejenak meletakkan gitar dan papan skate mereka untuk mendengarkan bagaimana NOFX berbicara soal drug, agama, sosial dan politik di album ini. Blashpemy (The Victimless Crime) dan Best God in Show misalnya, adalah lagu yang berbicara soal agama Kristen dalam pandangan Fat Mike. I’m an Alcoholic menunjukkan kepiawaian NOFX dalam mengawinkan musik ska-punk dan swing-jazz.. Sebuah lagu yang makin sedap dengan bumbu vocal Karina Denike (vokalis Dance Hall Crashers yg pernah merilis lagu ska di era 90-an). ”One Million Coasters” adalah lagu penutup yang sempurna. Ending lagunya yg fade out memberi kesan menggantung… seolah membawa kita pergi terbang ke sebuah tempat, entah kemana.. album selanjutnya mungkin?

 
© Copyright United Apples, Inc.™