Review Album Ayrton Senna (Delorean)

Minialbum (EP) Ayrton Senna ini adalah rilisan terakhir Delorean yang dihujani pujian dari banyak media internasional. Album ini menyuguhkan musik dance-pop yang bright dengan sedikit bau post-punk, mengingatkan pada band-band seperti MGMT, Junior-Senior, U2, Stone Roses dan sedikit Kasabian.





Sekilas album ini terdengar simple, tapi kalau diperhatikan secara mendetail, album ini sangat cermat memperhitungkan komposisi, dinamika, balance, tekstur dan struktur dalam musik. Segala bebunyian seperti piano-elektrik, efek gitar, bass, vocal serta berbagai sampler koor, handclap, perkusi dan sebagainya disajikan dalam takaran yang begitu pas - harmonis antara yang satu dengan yang lainnya.


Di atas semua kerumitan itu, spirit pop Delorean-lah yang membuat album Ayrton Senna akan tetap mudah dinikmati oleh semua orang. Deli dan Moonson adalah track yang membuat saya terkenang akan pesona Kasabian di awal kemunculannya; Seasun adalah track yang agak serius dengan dinamika lagu yang sangat terkonsep; Sementara Big Dipper yang departemen beatnya agak funky dan efek gitarnya agak mengingatkan pada gaya isian gitar The Edge adalah top-playlist versi saya.

photo: Nacho Alegre (www.nachoalegre.com)

Secara keseluruhan saya bahkan yakin album Ayrton Senna ini bisa membuat para pembenci musik disko jadi menghargai disko. Entahlah. Coba buktikan. Mungkin saja saya yang berlebihan menilai Delorean.

Dua Lagu Baru Weezer

Untuk penggemar Weezer, dibawah ini ada dua video lagu baru mereka. Lagu baru berjudul "The Girl Got Hot" dan "I'm Your Daddy" ini dibawakan ketika mereka tampil di Jisan Valley Rock Festival 2009 (Korea) empat hari yang lalu (24/07/'09).





"The Girl Got Hot"



"I'm Your Daddy"




*Rivers Cuomo picture grabbed from Weezer.com

I Hate People - Jemina Pearl feat. Iggy Pop

Lirik lagu I Hate People ini bercerita tentang dua anak muda anti-sosial yang bertemu dan saling menyukai. Mendengarkan lagu tentang hating people dengan beat / ketukan yang riang adalah sesuatu yang agak membingungkan, sampai akhirnya saya membandingkan mp3-nya dengan video live performance-nya di Youtube. Mungkin kesalahan ada pada aransemen dan soundnya, bukan pada televisi anda. Hehe..



Buat yang belum tahu,
Jemina Pearl adalah seorang penyanyi solo mantan personil sebuah band bernama Be Your Own Pet. Tahun lalu, dia bersama Thurston Moore (Sonic Youth) pernah mengcover lagu Ramones yg berjudul "Sheena is a Punkrocker". Sekarang Jemina berduet dengan Iggy Pop membawakan lagu 'I Hate People'. Lagu ini adalah salah satu single di album Break It Up (LP) yang rencananya akan segera dirilis beberapa bulan lagi.

Link:
- Download Mp3 I Hate You
- Jemina's Myspace
- Jemina's Blog (Puke 'Till You Punk)


Listen Mp3 stream



Jemina Pearl - I Hate You (Live - without Iggy)




The Headless Songstress, Out Now!

Waktu berlalu begitu cepat. Setelah beberapa waktu yang lalu Tika and The Dissidents menyebar video teaser, akhirnya kami mendapat kabar bahwa album “the Headless Songstress” dari Tika & The Dissidents sudah bisa dibeli di toko-toko musik di kota-kota besar Indonesia mulai 27 Juli 2009.



Berikut adalah profil Tika dan The Dissidents dari press-release resmi mereka:


"
Who the (hell) are Tika & The Dissidents?

TIKA
Maka ketika seorang wanita bipolar memiliki kemampuan untuk menulis lagu sekaligus suara menakjubkan, pun menjelmalah: Tika.
Kartika Jahja lahir di tahun 1980 dalam keluarga yang memiliki darah seni. Singer/songwriter asal Indonesia ini telah menempuh aneka jalur musik dimana dia sempat bergabung ke dalam sebuah band punk, band jazz, grup hip hop, bahkan band Top-40 . Dengan satu alasan: Dia senang sekali bernyanyi. Tika mulai menjalani musik secara serius ketika bergabung dengan band Yoko Phono saat berdomisili di Seattle, AS. Band tersebut bubar saat Tika kembali ke tanah air. Saat ini, selain keterlibatannya sebagai vocal talent untuk scoring berbagai film layar lebar, TIKA masih sering berkolaborasi dengan berbagai musisi dari bermacam-macam genre. Diantaranya Aksan Sjuman, Jamie Aditya, Agrikulture, dan lain lain.
Namun Tika mencuri hati banyak orang dengan lagu-lagunya sendiri saat dia mengeluarkan album debut pertamanya ‘Frozen Love Songs’ di tahun 2005. Dikemas ulang sebagai ‘Defrosted Love Songs’ pada tahun 2006. Sang biduanita pun dikenal handal menggagahi mikrofon. Seluruh perasaannya tumpah ruah memecah wajah saat berlaga di atas panggung.
Tika pun lantang menyuarakan pendapatnya yang tanpa tedeng aling-aling menguak borok budaya populer mulai dari televisi, industri musik, hingga diskriminasi seksual. Hal ini kerap kali menjadikannya terpojok keluar dari industri mainstream nan glamor.
Orang boleh saja menkotakkan musik Tika sebagai trip hop, jazz, noir pop, dan aneka nama jejadian yang membuat kami mengulum senyum. Beberapa fans pernah mengirimkannya silet berlumur darah bekas menyayat nadi. Para teroris internet mengecamnya terlalu ‘gemerlap’ untuk jadi kiri. Meskipun demikian, Tika sendiri tak pernah meproklamirkan dirinya sebagai apapun kecuali seorang biduan. Yang dia inginkan hanyalah merasakan ‘hidup’ menggejolak melalui musik, dan berharap para pendengarnya pun dapat mengalami perasaan yang sama. Untuk meninggslkan meja kantormu dan berteriak bila kau mau. Untuk merasa indah meskipun serbuan iklan mengatakan kau harus lebih ramping, lebih putih, dan berambut lebih lurus. Untuk mematikan televisimu dan bercinta… dengan diiringi alunan lagu Tika, semoga.

The Dissidents
Setelah kelelahan berganti-ganti pasangan di atas panggung dalam setiap penampilannya, Tika akhirnya memutuskan untuk membentuk band pengiring permanen. Maka berpadulah the Dissidents, pada tahun 2006. Seiring waktu, ketiga lelaki dengan gaya bermusik yang beragam ini, menjadi sangat berpengaruh dalam proses penulisan lagu Tika.
Susan Agiwitanto sang bassist (ya ia adalah lelaki, dan ya nama aslinya memang Susan), adalah personil dengan koleksi baju hitam terbanyak dalam band ini. Susan membagi waktunya antara sang istri tercinta, Tika, dan band progressive bernama “In Memoriam”. Saat bergabung dengan Tika, Susan menggantung bass elektrik lima senarnya dan mulai memainkan contrabass untuk menyesuaikan diri dengan musik Tika.
Berikutnya, penabuh drum Okky Rahman Oktavian. Pemuda Padang yang di usia 25 tahun, tubuhnya masih terus bertambah tinggi (tidakkah ini sedikit mengkhawatirkan?). Okky berangkat dari band post-rock “godsmustbecrazy”. Selain bermain musik dan bekerja di sebuah perusahaan IT, ia juga seorang pencerca bermulut tajam yang sadistis namun jenaka.
Terakhir adalah si pemikat hati wanita, Luky Annash. Pria sensitif bertutur halus yang piawai memainkan jarinya di piano. Luky telah bermain bersama Tika sejak sebelum kedua personil di atas bergabung. Hampir setiap waktu ia menjejali telinganya dengan lagu-lagu Tori Amos dari iPod putihnya, hingga tak elak gaya bermusiknya pun tertular. Selain bermain dengan “Tika & The Dissidents” Luky juga seorang penyanyi dan penulis lagu berbakat yang mempunyai proyek solonya sendiri.
"







Review Buku Dataran Tortilla - John Steinbeck

Secara umum, buku Dataran Tortilla mengangkat kehidupan kaum Paisano, yaitu masyarakat kelas bawah keturunan campuran Meksiko, Spanyol dan Indian di Amerika. Mereka adalah 'koboi berandalan' yang suka hidup bermalas-malasan, skeptis, amoral, dan kadang anarkis. Dalam banyak hal, novel sastra klasik ini mengingatkan saya akan spirit dan ideologi anak-anak punk..


Kehidupan menarik kaum Paisano itu disampaikan dalam bentuk kisah persahabatan enam pemuda pengangguran bernama Danny, Pilon, Big Joe Portugis, Jesus Maria Corcoran, Pablo, dan Bajak laut (beserta anjing-anjingnya!). Mereka selalu hidup seenaknya dan
tidak peduli pada hukum. Keluar masuk penjara adalah hal yang biasa. Kegiatan mereka sehari-hari adalah mabuk, tidur, mencuri, menipu, dan berburu wanita.

Cerita bermula ketika Danny mendapat warisan dua buah rumah dari kakeknya yang baru saja meninggal. Pemuda yang sebelumnya terbiasa hidup bebas itu merasa sangat tidak nyaman menerima tanggung jawab sebesar itu. Baginya rumah berarti hidup mapan, dan tanggung jawab adalah sesuatu yang sangat asing untuk dirinya. Dia mengajak Pilon dan teman-temannya untuk menyewa rumahnya, meskipun Danny tahu pasti bahwa teman-temannya tidak akan pernah membayar uang sewa. Dengan demikian, mereka semua hidup bersama dan Danny menjadi pemimpin diantara kawanannya.

Dari situ, John Steinbeck selanjutnya menceritakan petualangan keenam Paisano itu dari hari demi hari. Selain melakukan perbuatan jahat seperti mencuri hewan ternak milik tetangga; menipu penjual anggur; mencuri harta karun di hutan; merayu wanita dengan mesin penghisap debu, gula-gula, celana dalam sutera dan kutang merah; dan menjarah gudang kacang polong, mereka juga kadang berbuat baik dengan membantu seorang janda muda miskin yang punya delapan anak, menolong seorang tentara malang yang bayinya sekarat, menghukum salah satu anggotanya yang berkhianat, serta membantu si Bajak Laut dalam menepati kaulnya pada gereja.

Satu hal yang mungkin bisa kita petik dari buku ini adalah bahwa persahabatan itu seringkali terbentuk oleh kondisi senasib yang memunculkan rasa sepenanggungan. Para sahabat tidak selalu benar-benar saling mengasihi. Ketika ada kesempatan, mereka akan saling mencurangi dan saling melupakan. Tapi ketika datang gangguan dari luar, mereka akan berusaha mati-matian untuk bersatu (meskipun di buku ini diceritakan bahwa Danny dan kawan-kawan akhirnya gagal menjaga persahabatan, yaitu ketika 'jimat' pemersatunya telah hilang).

Setting / latar novel Dataran Tortilla adalah sebuah kota kecil bernama Monterey pada masa ketika Amerika baru saja berperang melawan Jerman. Alur ceritanya biasa, namun penokohannya luar biasa. Itulah kehebatan Dataran Tortilla. John Steinbeck mengemas keluguan dengan apa adanya, sehingga kisahnya begitu nyata.. Menghibur sekaligus memberi amanah pada pembacanya.
Soal kualitas tulisan, nama besar John Steinbeck adalah jaminannya, sedangkan soal kualitas terjemahan, reputasi Dewan Kesenian Jakarta dan Djokolelono adalah jaminannya.

Judul buku : Dataran Tortilla
Judul asli : Tortilla Flat (1935)
Penulis : John Steinbeck
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: Pustaka Jaya (Cetakan kedua, Februari 2009)
Tebal: 265 halaman

Shaggydog or Dubyouth ? Interview dengan Heru Mc Doggy & Memed Dubyouth.

Watch out, Ladies.. Shaggydog is in the house!! Seorang kawan kami berhasil mencegat Heru dan Memed, sesaat sebelum Dubyouth Soundsystem beraksi di sebuah street-gigs di depan halaman sebuah distro di kota Surabaya. Untuk Elzzine mereka ngobrol panjang-lebar tentang side-project ajub-ajub yang bernama Dubyouth, kolaborasi Shaggydog dengan Superman Is Dead, dan juga tentang 'generasi pengikut I Love You'. Interview ini sebenarnya hanyalah obrolan santai di pinggir jalan yang ramai. Di bawah ini adalah salinan dari percakapan yang terekam di recorder kami, lengkap dengan suara deru lalu-lalang kendaraan bermotor dari jalanan Surabaya:




Dubyouth Soundsystem tuh apaan? Sebuah side-project?
Heru: Ya, kira-kira begitu. Jadi di sela-sela waktu kalo pas Shaggydog nggak ada main, kita bisa bereksperiman di Dubyouth, sekalian party bareng teman-teman.
Memed: Jadi yang prioritas pertama tetap Shaggydog. Dan kalaupun misalnya nanti Dubyouth naik, tetap Shaggydog yang pertama.

Siapa yang duluan punya ide ini?
Heru: Berdua

Kalo kami lihat, akar musik Dubyouth sebenarnya reggae juga ya? Sama seperti Shaggydog tapi dikemas secara elektronik?
Heru: Benar.. Sebenarnya bahan dasarnya itu musik-musik Jamaica.. kayak reggae, dub, dancehall, ragamuffin..

Lalu bagaimana respon Doggies terhadap musik Dubyouth..
Memed: Kadang ada juga beberapa Doggies yg datang untuk nonton Dubyouth.

Ada benturan nggak? Mereka ada masalah nggak dengan unsur elektronik di Dubyouth?
Heru: Itu kan terserah mereka.. Kalo mereka mau datang ke show-nya Dubyouth berarti mereka bisa menikmati musiknya Dubyouth. Kalo soal apakah itu berbenturan atau gak.. ya pasti. Keduanya jelas beda... Yang satu elektronik dan yang satunya lagi benar-benar band. Itu saya serahkan pada mereka.. kalo mereka suka ya silahkan datang, kalopun tidak ya nggak apa-apa.

Memed: Tapi sejauh ini tuntutan Doggies secara musikal kepada kita nggak ada. Beberapa malahan support. Sejauh ini nggak ada kritik seperti misalnya : "Heru di Dubyouth koq main musik elektronik??"

Heru: ..kecuali aku bikin band kayak Ungu! Hahahaa..

Memang apa sih tema lirik lagu-lagu Dubyouth?
Heru: Ada yang tentang kehidupan.. Kebanyakan sih tentang ngajak orang untuk nge-dance.. ngajak orang untuk melupakan masalahnya dan berdansa.. Sebenarnya nggak jauh beda dengan Shaggydog, tapi Dubyouth lebih ke sisi party-nya.



Kalau lirik lagu 'Jika Kami Bersama'?
Heru: Tentang kebersamaan.. dan kebersamaan itu menciptakan suatu perbedaan di tengah maraknya musik Indonesia yg seperti itu-itu aja. Jadi pas kolaborasi itu kita bikin suatu perbedaan.. baik secara musikal ataupun secara lifestyle.

Kata 'Kami' itu merujuk pada siapa?
Heru: Kami itu Shaggydog, SID, Doggies-nya dan Outsiders-nya..
Kami itu mewakili generasi muda yg ingin berbeda.. Kalo mereka bersama kan membentuk kekuatan. Menciptakan perbedaan itu kan jadi ..
Memed: ..berbahaya!

Siapa yang bikin lagu itu?
Heru: Aku dan Boby SID.

Memang kayaknya dari kebanyakan rilisan kenapa Shaggydog sepertinya selalu mengedepankan kebersamaan ya?
Heru: Benar, kalo aku nulis lirik itu berdasarkan apa yang aku lihat.. Sama anak-anak deket banget. Banyak tentang kehidupan, banyak tentang anak muda, tapi memang banyak ditekankan kebersamaan. Jadi bagaimana sama-sama menjalani hidup.. naik turunnya menjalani hidup. Tema cinta-nya juga ada sih, cuman kemasannya beda.



Nah, kami pernah baca di majalah Rollingstone ada kutipan ucapan Mas Heru: "Di Indonesia kita punya pilihan lain, tapi yang ada musik itu selalu sama yang selingkuh-selingkuhan"
Maksudnya gimana tuh?
Heru: Itu saya ngomong berdasarkan kenyataan yg ada kan.. Hmmmm.. Band-band Indonesia itu kadang suka mengulang apa yg udah ada. Yang satu bilang selingkuh, band yang lain ikut bilang selingkuh. Kayak aku amati, akhir-akhir ini kata 'I Love You' sering sekali diulang-ulang, terakhir itu Dewi Sandra kalo nggak salah. Terus mulai dari Melly.. ST 12 (dan bilang I Love You).. Maksud saya, sebenarnya kan ada banyak sekali pilihan kata-kata.. kenapa nggak lebih kreatif ketika ada banyak sekali pilihan?

Setelah 12 tahun perjalanan Shaggydog, melihat Shaggydog sudah sampai mana?
Heru: Yang jelas, kita masih ingin berkarya terus. Kalo aku melihat, perkembangan Shaggydog sekarang sudah sampai bisa diterima segala kalangan. Mulai dari kalangan bawah, tengah dan atas.. kalangan seniman, kalangan kritikus musik maupun kalangan masyarakat biasa. Shaggydog sangat fleksibel. Dengan anak-anak disini (red: Surabaya) aku berteman juga. Dengan teman-teman musisi pop di Jakarta aku juga berteman, dengan musisi rock aku juga bisa berbaur, jadi sudah sampai tahap situ.
Kalo untuk karya, musik Shaggydog sekarang udah berkembang, udah bukan melulu ska atau reggae, tapi udah bermutasi. Bentuknya jadi udah 'aneh'.

Album baru Shaggydog kapan rilis?
Memed: Rencana sih tahun ini. Sebenarnya untuk produksi, album sudah siap. Belum dirilis karena ada beberapa pertimbangan. Kita kan mungkin mau bekerjasama dengan label tertentu.

Bikin lagu kayak 'Sayidan' apa gak takut dicap kedaerahan/ chauvinisme?
Heru: Nggak sih. Dari dulu waktu lagu itu tercipta kita nggak pernah mikir "Nanti kira-kira lagu ini kalo diperdengarkan disana gimana ya?" atau "Kira-kira kalo aku nyebut nama si Budi kira-kira nanti gimana ya?".. Nggak! Semua keluar begitu saja, langsung ambil! Love it or leave it. Paling cuman diedit-edit sedikit kata-katanya... "Wah ini terlalu ekstrim, Bisa diperhalus dikit..".

Berarti ada kemungkinan suatu saat nanti bikin lagu tentang Klampis St (lokasi gigs Dubyouth di Surabaya)? Hehe..
Heru: Bisa.. Hehehee.. Kalo kira-kira mengena di hatiku ya bisa aja. Hehehee..

Pertanyaan terakhir, apa pesan buat anak band biar gak jadi generasi "I Love You" ?
Heru: Ya harus berani mencoba dan total... kalo memang mau jadi musisi ya jadilah musisi yang baik.. Yang total, jangan setengah-setengah. Harus bereksperimen. Berani beda. Memang untuk jadi beda pasti kalian akan disingkirkan atau mungkin agak dijauhi sama temen-temen kalian. Misalnya semua teman kalian main rock, tapi kalian sendiri memutuskan untuk main jazz. Kumpulan kalian akan berkata, "Koq jazz sih!?". Awalnya Shaggydog juga memang begitu. Orang bilang, "Koq reggae? Koq nggak pop-rock??". Pertama memang begitu, tapi kalo udah punya warna sendiri nanti akan terbukti, nanti kalian nggak punya sainganlagi karena kalian sendiri. Dan itu memang nggak gampang.. Perlu kesabaran..

Surabaya, 25 Mei 2009
Interview with Heru Shaggydog dan Memed Dubyouth
by Dean Andana (Elzzine)
Photo Rar @ Elzzine.com


related article:
Keluarga Sayidan, sebuah catatan perjalanan mengikuti ShaggyDog selama beberapa hari

 
© Copyright United Apples, Inc.™